Realitas terkini bagi harimau Sumatera sangat suram. Mereka diklasifikasikan sebagai Sangat Terancam Punah, dengan kurang dari 300 individu yang tersisa di alam liar. Mereka tidak hidup sebagai satu populasi yang terhubung, tetapi dalam kantong-kantong terisolasi yang terdiri dari 20-30 harimau yang terpisah oleh lahan yang telah dibersihkan, pertanian, dan permukiman manusia.
Harimau Sumatera membutuhkan hamparan hutan hujan dataran rendah yang luas untuk berkembang biak. Mereka membutuhkan habitat terkaya dan terpadat secara biologis di Sumatera, Indonesia, untuk berkeliaran, berburu, dan membesarkan anak-anak mereka dengan aman. Namun, justru jenis lahan inilah yang secara agresif dibersihkan untuk pertambangan dan pertanian. Yang tersisa setelah pembersihan bukan hanya berkurangnya hutan – tetapi juga jenis hutan yang salah, dengan bentuk dan ukuran yang tidak tepat bagi harimau untuk benar-benar bertahan hidup.
Populasi harimau yang terisolasi dari populasi lainnya tidak dapat bertahan selamanya. Keragaman genetik akan terkikis. Satu wabah penyakit – seperti epidemi flu babi yang memusnahkan populasi babi hutan dan membuat harimau kekurangan mangsa utamanya – dapat menghancurkan kelompok yang terisolasi, tanpa ada cara untuk pulih.
Hamparan hutan kecil tidak dapat mendukung populasi harimau dalam jangka panjang. Habitat yang layak berarti hamparan hutan hujan yang luas membentang lebih dari 200.000 hektar. Ukurannya penting. Bentuknya penting. Jenisnya penting. Harimau membutuhkan hutan dataran rendah yang luas dan lebar.
Saat ini, tidak ada satu pun populasi harimau yang cukup besar untuk dapat bertahan hidup sendiri. Dan kemungkinan besar tidak akan pernah ada. Solusi yang dibutuhkan adalah mengelola harimau Sumatera sebagai satu metapopulasi tunggal: secara aktif memindahkan pejantan penyebar antar ekosistem yang dilindungi untuk mempertahankan aliran genetik yang tidak dapat lagi dicapai oleh kelompok-kelompok terisolasi sendiri.
Ancaman yang dihadapi harimau tidak terjadi secara terpisah. Ancaman-ancaman tersebut saling memperkuat.
Perusakan habitat mempersempit ruang yang dapat ditempati harimau dengan aman. Perburuan liar secara langsung mengurangi jumlah harimau, didorong oleh permintaan pasar gelap akan bagian tubuh harimau yang mencapai pasar global. Keruntuhan populasi mangsa akibat perburuan liar, jerat, dan penyakit berarti bahwa meskipun harimau bertahan hidup, mereka mungkin tidak memiliki cukup makanan.
Dan seiring menyusutnya habitat mereka dan hilangnya mangsa, harimau pun berpindah. Mereka pindah ke lahan pertanian, ke desa-desa. Ketika ini terjadi, baik harimau maupun manusia sama-sama berisiko. Masyarakat menghadapi bahaya nyata, dan harimau dibunuh sebagai pembalasan.
Apa yang dibutuhkan untuk menyelamatkan mereka?
Tiga ancaman utama mendorong harimau Sumatera menuju kepunahan: hilangnya habitat, perburuan liar, dan konflik manusia-harimau. Membalikkan tren tersebut berarti mengatasi ketiga ancaman tersebut secara bersamaan, untuk membangun kembali kondisi yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup jangka panjang.
Di lapangan, ini berarti para penjaga hutan berpatroli di ekosistem yang tersisa, menyingkirkan jerat, mencegat pemburu liar, dan menggunakan kamera pengintai untuk memantau pergerakan harimau, ancaman yang mereka hadapi, dan ketersediaan mangsa. Ini berarti mengidentifikasi harimau yang tersesat ke wilayah manusia dan, jika perlu, memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman. Ini berarti mengamankan area hutan hujan dataran rendah yang tersisa, dan membangun suaka yang cukup besar agar benar-benar layak.
Namun semua ini tidak akan cukup tanpa elemen tambahan: komunitas yang hidup berdampingan dengan harimau.
Masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau merupakan kunci dalam perlindungan. Ketika masyarakat setempat memiliki kepentingan nyata dalam kelangsungan hidup hutan – ketika mereka memiliki pengetahuan, sumber daya, dan keamanan ekonomi untuk hidup berdampingan dengan harimau daripada bersaing dengan mereka – dinamika akan berubah.
Anggota komunitas menjadi penjaga. Mereka tidak terlibat dalam perburuan liar, dan secara aktif berupaya mengakhirinya. Mereka mengelola lahan mereka dengan cara yang mengurangi konflik. Mereka memiliki kekuatan untuk melindungi lahan tersebut. Dan mereka mewariskan pengetahuan dan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya.
Transformasi itu tidak terjadi hanya melalui pendidikan. Hal itu membutuhkan investasi nyata dalam kemakmuran komunitas-komunitas ini. Membantu masyarakat membangun mata pencaharian yang tidak bergantung pada penebangan hutan, dan mendukung mereka dalam menghadapi tantangan nyata hidup di dekat salah satu predator terkuat di dunia.
Harimau Sumatera bukan sekadar hewan yang layak diselamatkan karena langka atau memiliki nilai budaya yang penting – meskipun memang demikian adanya. Harimau adalah spesies kunci dalam beberapa ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi. Di mana harimau bertahan hidup, hutan pun ikut bertahan hidup. Di mana harimau punah, ekosistem pun ikut lenyap.
Kita telah menyaksikan dua subspesies punah di Indonesia. Harimau Sumatera adalah benteng terakhir. Kesempatan terakhir untuk menunjukkan bahwa kepunahan bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan; bahwa dengan komitmen yang cukup, sumber daya yang cukup, dan kemauan yang cukup untuk melakukan kerja keras dalam hidup berdampingan secara tulus, masih mungkin untuk mempertahankan keberlangsungan hidup.
Itulah yang dibutuhkan. Bukan hanya satu intervensi, bukan hanya satu kawasan lindung, bukan hanya niat baik semata. Tetapi upaya jangka panjang yang terhubung untuk mengamankan habitat, melindungi harimau, dan membangun masa depan di mana masyarakat Sumatera dan harimaunya dapat sama-sama berkembang.
Sumber: Earth.org

